Ada Tukik di Pantai Lampuuk

tukik-dlm-bak_pRabu, 29 Februari 2012 mungkin adalah hari yang sangat dinantikan oleh beberapa orang di dunia ini. Kenapa? Yupz, karena hari itu tidak ada setiap tahun lho. Tanggal tersebut Cuma muncul 4 tahun sekali alias pada tahun kabisat (tahun yang angkanya habis dibagi 4). Artinya, orang yang berulang tahun di tanggal tersebut hanya akan merayakan ulang tahunnya 4 tahun sekali.

Haha.. itu hanya sebagai intro aja. Bukan mengenai itu yang mau diceritain kok. Nah, pada Rabu sore tu kebetulan saya dapat info di twitter melalui akun Earth Hour Aceh (@EHAceh), @jaringkuala dan @SahabatLaut klo di Pantai Lampuuk, Aceh Besar tu akan diadakan acara pelepasan tukik (anak penyu). Wah, di Lampuuk?  Kebanyakan orang mungkin hanya tahu klo Lampuuk adalah salah satu pantai yang indah di Aceh. Iya sih.... tapi hanya sedikit yang tahu (saya aja baru tahu) klo disana tu juga ada penangkaran penyu. Ada penangkaran berarti ada juga penyu donk, tapi kok belum pernah nampak ya? Yupz, menurut penduduk setempat penyu-penyu yang ada hanya keluar di malam hari untuk bertelur dan di bulan-bulan tertentu saja. Kebanyakannya adalah penyu jenis belimbing. Melihat di foto yang dirilis oleh jaring Kuala, tinggi penyunya itu sekitar hampir mencapai tinggi bahu orang dewasa T_T.


Mendapati info tersebut (dapat? Emang hilang kali ya..:D), saya pun menginfokan ke beberapa teman untuk pergi menyemarakkan acara. Singkat cerita, jadilah kami berempat menuju Pantai Lampuuk yang berjarak sekitar 18 km dari pusat kota Banda Aceh. Sebenarnya acara dijadwalkan dimulai pukul 16.00 WIB dan kami mulai bergerak dari arah Banda Aceh pukul 16.35 WIB. Udah telat pikir kami, namun Alhamdulillah sesampai disana, acara pelepasan tukik belum dimulai. Masih dalam tahap seremonial pembukaan yang dihadiri oleh masyarakat umum, perwakilan pemda (wakil bupati), camat, anak-anak sekolah, dan wisatawan mancanegara.

Prosesi pelepasan tukik (anak penyu) ke laut
Prosesi pelepasan tukik (anak penyu) ke laut

Wah, secara pribadi deg-degan juga rasanya. Maklum saja, semenjak tsunami tahun 2004 silam, saya belum pernah melihat penyu secara langsung. Apalagi ini anaknya (tukik) yang masih kecil, lasak, nan unik :). Setelah seremonial selesai, tukik-tukik yang berjumlah 165 ekor dan dimasukkan ke 2 kotak terpisah itu mulai dibawa menuju bibir pantai. Secara resmi, pelepasan dilakukan oleh perwakilan yang telah diundang seperti wakil bupati, LSM, anak sekolah, dan wisatawan asing. Namun karena banyak peminat, akhirnya beberapa pengunjung juga diberi kesempatan untuk melepaskan. Saya sendiri Cuma sempat pegang n foto bareng sebelum dilepaskan. Moga tukik yang saya pegang (dan lainnya juga) bisa selamat tumbuh sampe gede di laut ntar, bisa balek lagi di tempat ia menetas dan menelurkan banyak telur-telur lainnya lagi. Amiiinn... :) 

mudah-mudahan tukik ini tumbuh sampe besar ya... :)
mudah-mudahan tukik ini tumbuh sampe besar ya... :)

Oh iya, pelepasan penyu dalam rangka konservasi penyu ini dilakukan untuk pertama kalinya di kawasan tersebut lho. Maka dari itu mungkin banyak masyarakat yang belum tahu. Ternyata masih ada populasi penyu di Pantai Lampuuk. Dalam acara pelepasan itu, 16 ekor diantaranya tidak dilepaskan dahulu dengan berbagai pertimbangan dan alasan medis (#eh). Ke-16 ekor tersebut ditempatkan di bak tak jauh dari acara pelepasan. Di sebelahnya masih ada satu lubang telur penyu lagi yang masih belum menetas.

Mudah-mudahan dengan adanya acara semacam ini dan dukungan pelestarian dari berbagai kalangan, penyu-penyu di Aceh, khususnya di pantai Lampuuk ini bisa kita saksikan lagi. Terhindar dari kepunahannya.

-->mohon informasi/masukan tambahan yang teman-teman ketahui ya.. :)

*klo mau lihat foto-foto yang lebih lengkap, bisa lihat di flickr saya. Klik disini

Posted by
ahmad_zikra

More

Semangat Peringati Maulid Nabi

kendurimaulid1idangmeulapeh1Sebelumnya saya mohon maaf dulu apabila tulisan yang akan saya tulis ini menjadi tidak berkenan atau bahasanya yang tak teratur. Yupz... karna dah sangat jarang posting dan menulis, otomatis hal tsb mempengaruhi juga tata bahasa yg akan digunakan. Yang akan ditulis pun untuk sementara ini cukup sederhana masih. Namun apapun itu, the show must go out.. eh, go on mksudnya...
[muqaddimah yang ngak penting]

***

Sabtu, 4 Februari 2012 (11 Rabiul Awal 1433 H) mungkin adalah hari yang biasa-biasa saja bagi beberapa orang. di daerah kami, terutama di sekitar daerahku tinggal ada yang berbeda seperti biasanya. Beberapa rumah mulai kasak kusuk mempersiapkan semacam kenduri walau secara kecil-kecilan. Mulai potong kambing sampai tumis kepiting (eh), kue bakwan sampe timphan :D. Aku pun mulai tersadar klo besoknya itu adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Nah, apa hubungannya kenduri dengan maulid Nabi? Walaupun masih ada yg memperdebatkan mengenai hal ini, kenduri di daerah kami sudah menjadi semacam tradisi tersendiri. Ada yang memasak sampai beberapa belangong (kuali) untuk kenduri satu desa dan mengundang desa lainnya, atau ada juga yang sekedar kenduri kecil-kecilan di rumah dan mengundang tetangga atau anak yatim. Merasa senang dan semacam munculnya sebuah semangat tak tergambarkan ketika terkenang perjuangan Rasulullah dulu. Momentum seperti itu akan terasa lebih luar biasa ketika bisa diperingati atau dirayakan. Dan dimomentum ini pula kisah-kisah teladan mengalir secara langsung baik dari penceramah atau bincang-bincang selagi mempersiapkan kenduri. Di masa dahulu, maulid bertujuan untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam perang.

Kembali ke kisahku tadi, kenduri maulid di desa kami tahun ini memang diadakan kecil-kecilan. Bahkan bisa dikatakan tidak diadakan secara kesepakatan resmi seperti biasanya (setidaknya belum menurutku). Beberapa KK (kepala keluarga) menyiapkan masakan (kenduri hidang) untuk dibawa ke Meunasah (mushalla desa) dan disantap bersama setelah shalat magrib dan zikir bersama. Aku sendiri selain di meunasah, juga menghadiri salah satu kenduri di Dayah (pesantren) dekat rumah. Ya, karna waktunya bersamaan maka aku hanya mengantarkan makanan dan singgah sebentar ke meunasah, baru deh meluncur ke dayah.

Bagiku, Disini acara bisa lebih meriah. Selain makan kenduri bersama (tentunya :) ) dan zikir barzanji, juga ada lengiek. Lengiek itu adalah semacam gerakan tari (posisinya mirip dengan tari saman) yang diiringi dengan lantunan shalawat dan zikir. Ikut berada dalam barisan lengiek itu bagiku itu sesuatu. Hehehe... semangat dari setiap lantunan mudah-mudahan terus bisa meningkatkan kecintaan terhadap Rasulullah Muhammad SAW.

Posted by
ahmad_zikra

More

Tsunami Aceh untuk Dunia

2010117tsunami-acehTsunami, bagi masyarakat Aceh khususnya memiliki memori tersendiri akan hal ini. Kejadian pada tanggal 26 Desember 2004 itu merupakan salah satu fenomena terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Masing-masing mempunyai cerita sendiri akannya. Walaupun cerita yang ada bisa berbeda-beda, tapi tetaplah persamaan yang paling mendasar disana adalah : kehilangan. Kehilangan harta benda, bahkan nyawa orang-orang sekitar. Kehilangan yang bahkan untuk beberapa orang tak bisa dipastikan, hilang meninggalkan dunia ini atau hilang dari lingkungan keluarga sekitar karna terpisah saat kejadian.

Hmm... ah, klo diperpanjang, banyak kisah di sebaliknya. Namun kali ini saya lebih ingin membicarakan mengenai pelajaran yang seharusnya diambil dari kejadian itu.

Nyatanya, kejadian tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 bukanlah kejadian pertama kalinya di Indonesia. Klo kita cermati lagi, kejadian serupa pernah terjadi akibat letusan gunung krakatau (1883), kemudian di Simeulu (1907), Sigli (1967), Sumba (1977), Flores (1992), Banyuwangi (1994),  pangandaran (2006), Bengkulu (2007), Mentawai (2010), dan masih banyak lagi (akan terus diupdate). Selain indonesia sendiri, tsunami juga terjadi di negara-negara lainnya, yang terbaru adalah kejadian tsunami di Sendai, Jepang pada 11 maret 2011 yang lalu.

Kembali lagi ke kejadian tsunami Aceh. Setelah 7 tahun kejadian tersebut apa yang bisa kita ambil darinya? Gempa dan tsunami adalah salah satu kejadian alam yang tak bisa diprediksi. Jadi salah jika ada pihak-pihak yang mengatakan jika akan terjadi gempa/tsunami pada tanggal sekian jam sekian, bla..bla..bla.. yang bisa dilihat hanyalah potensi yang ada. Indonesia yang berada di jalur ring of fire memiliki potensi yang cukup besar untuk terjadinya gempa/tsunami. Nah, jika kejadian itu tidak dapat diprediksi, maka seharusnya diri kita yang seyogyanya memiliki kapasitas untuk menghadapi itu semua. Menghadapi disini dalam artian apa yang harus kita lakukan bila suatu saat (mudah-mudahan tidak) bencana itu datang lagi.

Kapasitas pengetahuan itu penting. Liat saja ketika tsunami terjadi di Aceh 7 tahun yang lalu, ketika air laut surut, masyarakat di pesisir malah banyak yang memilih untuk mengambil ikan yang ‘terdampar’ akibat tak sanggup mengimbangi arus surut. Masih banyak masyarakat yang memilih kembali ke rumah untuk menyelamatkan hartanya ketimbang menyelamatkan nyawanya. Masih banyak warga yang kebetulan berada di gedung bertingkat berdesakan turun melalui tangga (padahal tangga adalah bagian rawan saat terjadi gempa). Masih ada juga masyarakat yang tak tahu harus menyelamatkan diri kemana, bisa jadi karna galau atau tidak ada rambu harus berlari kemana.

Mudah-mudahan kapasitas yang ada bisa kita tingkatkan. Kapasitas pengetahuan kita yang sebagiannya telah belajar karna secara langsung pernah berhadapan dengan gempa/tsunami. Pengetahuan tersebut diperlukan bukan hanya untuk kita saja, tapi juga untuk masyarakat luas di dunia.

Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat bermanfaat.

Posted by
ahmad_zikra

More

Wisuda Teknik nan Unik

Sebelumnya mohon maaf kepada para penggemar karna dah jarang posting (sok punya  penggemar) :D. Tulisan kali ini sebenarnya mau diposting sebulan yang lalu, tapi dengan berbagai alasan dan keterbatasan yang ada, baru bisa tayang sekarang deh. :)

*        *        *

Kamis (24.11.2011) aku kembali ke kampus. Tentunya kembali kali ini bukan untuk ikut kuliah seperti dulu, tapi untuk menghadiri acara wisuda salah seorang teman di Teknik Sipil. Wisuda Universitas Syiah Kuala Banda Aceh sendiri biasanya dilangsungkan di gedung AAC Dayan Dawood. Dalam setahun wisuda dilakukan 4 kali di bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Dari 4 bulan tersebut, biasanya sih yang paling ramai wisuda adalah di bulan November. Untuk kali ini saja, karna ramainya mahasiswa calon sarjana, wisuda yang biasanya menggabungkan semua fakultas itu terpaksa dibagi dalam 2 hari. Hari kamis (24.11.2011) untuk fakultas teknik dkk dan Sabtu (26.11.2011) untuk fakultas kedokteran dkk.

Nah, khusus untuk fakultas teknik sendiri (teknik sipil, kimia, mesin, elektro, dan arsitektur), ada tradisi unik dalam penyelenggaraan wisuda ini. Setelah proses wisuda di dalam ruangan aula selesai, para wisudawan-wisudawati ini bakalan diarak keliling kota Banda Aceh dengan truk trailer. Hoho...

Akupun kembali ingat memori setahun yang lalu, saat aku diwisuda, juga di bulan November. Setelah prosesi acara di dalam gedung, buru-buru deh foto-foto ma keluarga dan kawan-kawan yang turut hadir. Kenapa harus buru-buru? Ya karna ngak bakalan mau ditinggalin ma trailernya ntar. Hehe...

Aku berdua dengan seorang sahabat setelah shalat dhuhur di salah satu mushalla juga sempat lari-lari mengejar itu trailer yang udah mulai jalan. Hahaha... unforgetable memory. :)
Klo ada yang tanya untuk apa para wisudawan ini diarak keliling kota pake trailer segala? Sebenarnya sih untuk simbolis bahwa para wisudawan itu sudah ‘keluar’ dari kampus dengan ilmu yang sudah di dapatkannya. Ilmu yang ada itu diharapkan dapat dimanfaatkan dalam masyarakat. Dan disini juga wisudawan ‘diperkenalkan’ kepada masyarakat dengan cara diarak keliling kota. Kenapa dengan truk trailer? Yupz, karna pekerjaan teknik (terkhusus lagi di jurusan teknik sipil) idientik dengan bangun membangun gitu, truk trailer ya sebagai mobilernya. Hehe...
Ini ni beberapa foto kehebohan arakan wisuda saat aku wisuda setahun yang lalu :

berkumpul di lapangan tugu, siap-siap berangkat
berkumpul di lapangan tugu, siap-siap berangkat

suasana di atas truk trailer
suasana di atas truk trailer

kendaraan yang dibelakang pada heran kali ya.. :)
kendaraan yang dibelakang pada heran kali ya.. :)

sampe di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh benhenti dlu bentar, skalian para wartawan mau foto-foto :)
sampe di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh benhenti dlu bentar, skalian para wartawan mau foto-foto :)

besoknya ternyata masuk koran euy.. :D
besoknya ternyata masuk koran euy.. :D

nyari-nyari di youtube, rupanya ada videonya juga lho. ini pas kami wisuda setahun yang lalu -_-'  :D :



Posted by
ahmad_zikra

More

Apakah Hanya Karena Gerimis Kita Mengemis ?

Suasana berbeda terjadi di kawasan Aceh menjelang Lebaran Idul Adha. Seperti biasanya, 2 hari menjelang Idul Adha, sudah ada tradisi meugang terlebih dahulu. Para penjual daging pun mulai membuka lapak dadakan di beberapa tempat strategis. Sambil berharap daging yang dijajakan cepat laku terjual. Wlopun di saat meugang Idul Adha sendiri para penjual lebih sedikit dibandingkan saat meugang Puasa dan meugang Idul Fitri.

Hari itu Sabtu, 5 November 2011 yang berarti esoknya bakalan lebaran Idul Adha 1432 H. Sudah dua hari terakhir hujan terus membasahi kawasan Banda Aceh dan sekitarnya. Mendung yang masih saja kelam bagai mengabarkan hujan akan terus turun dalam beberapa waktu ke depan. Malam selepas Shalat Isya di saat takbir menggema hampir di seluruh Meunasah (mushalla) dan masjid, aku hendak memacu motor menuju kantor tempatku bekerja. Bukannya kelewatan rajin sih, namun ada tugas yang harus segera diselesaikan. Terkadang pandangan orang-orangpun berbeda. Kenapa harus tetap bekerja padahal malam itu adalah malam lebaran. Apakah hanya sekedar mengejar materi? Atau kepentingan-kepentingan lainnya? Pendapat itu tak dapat juga disalahkan sebenarnya. Namun ada hal-hal yang harus kita lakukan dan membutuhkan sedikit pengorbanan di bagian lainnya. Ini bukan tentang materi Bung, tapi tanggung jawab terhadap apa yang telah dibebankan kepada kita. Akupun tak membicarakan khusus diriku, namun kita semua secara global.

Posted by
ahmad_zikra

More

Gas Poooll.. (Lebaran Punya Cerita)

Yang namanya lebaran bagi kaum muslim itu idientik dengan silaturrahim. Silaturrahim mengunjungi sanak family, guru, para sahabat ataupun teman dekat. Kebiasaannya kita akan disuguhkan dengan minuman/kue yang tentunya di setiap rumah itu berbeda-beda. Kadang di satu rumah disugukan sirup merah, di rumah lainnya sirup orange, melon, lychee, atau bisa saja kopi, teh, sampe minuman bersoda. Kebayang ngak tuh, klo dalam sehari kita mengunjungi 5 rumah saja yang berbeda, betapa beraneka macamnya minuman yang masuk ke perut kita. Ujung-ujungnya bisa jadi mules, berangin, dan pruuuutttt.... kentut sembarangan (hush, bau tau... :D). Belum lagi dengan makanan yang disajikan yang membuat perut kita bakalan maju beberapa senti ke depan. :D

Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, aku sendiri pernah beberapa kali mengalami hal serupa. Namun ada kisah lainnya yang mungkin bisa dibilang menarik atau bahkan menggelikan. Di rumah yang kita kunjungi tanpa kita duga adakalanya kita disugukan makanan lain selain kue-kue yang ada. Bisa jadi itu semacam lontong, ketupat, tape, hingga nasi. Nah, namanya juga kita kan silaturrahim, jadi kan ngak tahu bakalan dihidangkan apaan di rumah yang kita tuju.


Terkisahlah di suatu hari (halah bahasanya ini), pasukan kami seperti biasa mengunjungi rumah beberapa orang guru dan teman. Tak disangka tempat tujuan pertama langsung deh disediain lontong yang terpampang disitu made in yang punya rumah. Sarapan pagi pun belum, pas banget deh jadinya. Namun upz, mungkin ada yang semangat double 45 kali ya, porsi makannya ‘agak’ sedikit banyak. Haha... di rumah selanjutnya, entah kenapa hari itu cukup ‘beruntung’, kamipun disuguhkan makanan serupa, lontong. Mungkin lontong sedang menjadi trending menu saat itu ya :).

Dan prosesnya pun tak jauh dari sebelumnya, masih cukup lahap. Namun di tujuan selanjutnya, seperti tak pernah dibayangkan sebelumnya, juga disuguhi makanan serupa. Kebayang deh tu kawan yang tadi di part1 dan part2 langsung hajar dalam porsi banyak. Di part3 kali ini makannya sambil elus-elus perut berharap masih ada ruang kosong untuk dimuati. Mau nolak ngerasa takut ‘ngak enak’ ma yang punya rumah. Akhirnya maksain deh tu makan.

Nah, tipsnya klo berkunjung sih klo minumannya beraneka macam, jangan terlalu juga dipaksain en jangan lupa juga minum banyak air putih. Klo untuk urusan makanan, makanlah yang cukup sesuai porsi dan selera. Jangan mentang-mentang makanannya enak, maen hajar aja trus tu pake kaliber 45 (emang ada ya). ada makanan, jangan gas full trus, liat-liat dulu :D. Pake perasaan juga (gimana sih ini makan pake perasaan -_-?).

#ini ceritaku, gimana ceritamu? Hahay.... :D

Posted by
ahmad_zikra

More

Borong Buku di Pameran “Pesta Buku Aceh 2011”

milih buku1 225x300 Borong Buku di Pameran “Pesta Buku Aceh 2011”
mari dipilih, dipilih bukunya....

Melihat spanduk-spanduk di pingir jalan bertuliskan Pesta Buku Aceh 2011 dengan tema “Membudayakan minat baca masyarakat Aceh” membuatku terhenti sejenak. Pameran buku? Wah ini ni yang ditunggu-tunggu. Pesta Buku yang bertempat di Gedung Chik Di Tiro (Gedung Sosial), Banda Aceh ini berlangsung tanggal 29 Oktober – 3 November 2011. Dibuka pukul 09.00 WIB - 22.00 WIB, acara ini menghadirkan peserta dari Penerbit Nasional & Lokal, Toko Buku serta Distributor Buku, Produsen alat tulis dan komputer, Perpustakaan Daerah, Lembaga pendidikan + Komunitas Buku.


Wah, seru ni. Dah lama juga (untuk ukuranku) ngak belanja buku. Langsung tancap gas deh hari pertama pameran. Coz hari-hari ke depannya dalam perhitunganku bakalan ngak sempat ngunjunginya lagi. Maklum, kena tugas lapangan di luar kota (sok sibuk, haha..:D). Sore Sabtu hari pertama itupun aku menggeber motor menuju kesana. Setelah membayar ‘uang parkir’ 2.000 rupiah dan memarkirkan motor di lingkungan gedung, akupun langsung masuk ke ruangan tempat pesta buku digelar. Glek, rupanya banyak juga orang yang datang ya. Hari pertama gini? Waaa… salut deh, berarti bisa dilihat klo budaya membaca disini dah meningkat tu.

Posted by
ahmad_zikra

More

Meugang, Tradisi Makan Sie dan Berbagi

Suatu hari,
Para sapi dan saudara jauhnya yang tak mempunyai hubungan darah dengannya yaitu kerbau, adakalanya termasuk juga para kambing dan sepupu jauhnya biri-biri, merasa begitu pasrah diri. Satu-persatu mereka digiring oleh tuan lama ataupun tuan baru mereka ke suatu tempat yang tak mereka kenali. Pisau terhunus, tussshhh.... pandangan lurus mereka kini hilang terhembus, buusss... -^v^v—v^--v---------------- dead 

(*ini bukan pilem horror lho..)

Di pasar pagi mulai ramai terlihat para sapi yang sudah tak berbaju lagi, bergelantungan di tenda dadakan yang mulai tak sepi. Para penjual dengan pisaunya terlihat sibuk melayani para pembeli.

Penjual Daging di Pasar Lambaro, Aceh Besar
Penjual Daging di Pasar Lambaro, Aceh Besar

Ah, Jangan dulu ngeri atau mengira saya sedang membuat puisi. Saya hanya ingin bertanya apa yang anda bayangkan dari tadi? Satu lagi, kenapa pula ya kalimat saya dah berakhir semua dengan ‘i’ ini? :D

Nah, sebagian dari pembaca mungkin mengira saya sedang akan menceritakan mengenai keadaan saat Hari Raya Idul Adha atau hari raya qurban yang tiap tahun diperingati oleh kaum muslim. Benar, anda yang menjawab seperti itu benar, keadaannya memang begitu kok. Namun di Aceh khususnya, pemandangan seperti itu tak hanya dijumpai saat Hari Raya Idul Adha saja lho, melainkan juga pada momen lainnya. Momen itu berlangsung 3 kali setahun, pertama (biasanya dua atau satu hari) sebelum masuk bulan Ramadhan (puasa), kedua sebelum Hari Raya Idul Fitri, dan yang ketiga sebelum Hari Raya Idul Adha. Momen itu, kami menyebutnya dengan istilah meugang atau ada juga yang menyebut makmeugang.

Bisa dikatakan, meugang adalah hari yang dirayakan dengan cara memasak dan menyantap sie (daging) bersama keluarga. Menurut sejarahnya sih, pada awalnya budaya meugang ini dilakukan pada masa Kerajaan Aceh. Waktu itu, Sultan memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagi-bagikan kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur atas kemakmuran dan terima kasih kepada rakyatnya. Tradisi itu tetap berakar di tengah masyarakat Aceh sampai sekarang.

Tradisi ini menjadikan masyarakat Aceh tetap mengkonsumsi daging minimal 3 kali setahun. Saat meugang, banyak kita jumpai pasar kaget yang menjual daging. Pasar-pasar didominasi oleh penjual daging. Penjual ikanpun sementara waktu ada yang beralih profesi sebagai penjual daging. Persentase penjualan daging pada masa ini menjadi meningkat drastis, harganya juga sih. Bayangkan saja, di hari biasa aja harga daging sapi bisa mencapai Rp 100.000/kg. Nah kalo hari meugang, bisa tembus ke angka Rp 120.000 – Rp 150.000/kg..!! wow, saya rasa harga ini adalah harga daging termahal di dunia bukan? Untuk menyiasatinya, banyak juga warga yang meuripee (patungan) membeli ternak dan menyembelihnya.

cara meuripee ini ternyata sangat efektif bagi kalangan yang terasa berat lho. selain itu, sejak proses penyembelihan ini, gotong-royong akan secara otomatis tercipta. dengan meuripee ini, masyarakat pun bisa menyicil uangnya hingga terkumpul sejumlah harga sapi yang akan dibeli. dan kalaupun ada satu dua orang yang belum cukup uangnya, bisa ditutup dulu oleh orang yang ikutan meuripee lainnya. wah, mantap juga metode ini. *dah pernah praktek juga :D

Daging Sapi yang Dijual
Daging Sapi yang Dijual

* * *

Di meugang sebelum puasa (1432 H) yang lalu, ketika ibu saya pulang sehabis membeli daging, saya melihat 2 potong daging yang katanya 2 kg itu. “Segitu 2 kg?” tiba-tiba terbesit dalam hatiku. 1 kg berarti satu potongnya, dan 1 kg itu sungguh tak banyak kawan. Apa lagi jika dalam keluarga terdapat beberapa anggota keluarga. Langsung teringat bagaimana dengan orang-orang yang kurang mampu dapat membeli itu daging. Meugang berarti harus ada daging, tanpanya akan terasa hambar dan menjadi ‘kewajiban’ bagi para lelaki yang sudah berumah tangga untuk membawa pulang daging. Bagaimana cara agar meugang tetap dapat dinikmati?

Budaya meugang ini sendiri memiliki beberapa makna. Diantaranya adalah :
1. Silaturrahmi. Saat meugang, anggota keluarga biasanya tetap berkumpul untuk menikmati dan menyantap bersama hidangan daging meugang. Jika kebetulan ada anggota keluarga yang sedang merantau, biasanya akan pulang pada masa ini. Ya, klo merantaunya ngak jauh sih. karena budaya meugang ini juga diperingati oleh masyarakat Aceh yang hidup di perantauan.

2. Berbagi. Seluruh lapisan masyarakat, kaya maupun miskin turut menikmati suasana meugang ini. Disinilah kearifan dari si kaya yang mau berbagi rezekinya dengan orang kurang mampu. Sehingga orang yang tak sanggup membeli dagingpun bisa menikmati suasana meugang. Sedih juga kan kita lihat, klo sampai seorang miskin yang tak sanggup membeli daging, hanya bisa mencium bau masakannya aja. Untuk mereka yang dewasa okelah mungkin bisa tahan, tapi kalo anak-anak? Bisa anda bayangkan jika ada anak-anak yang bertanya kepada ayah bundanya kenapa tak ada daging yang dapat mereka santap sementara bau masakan tetangga terus saja menusuk indera penciumannya? Sedihnya lagi, jika mereka tak tahu harus bertanya kepada siapa karna sudah tak ada lagi ayah bunda. Jawablah selaku seorang ayah/bunda, jawablah juga selaku anda adalah tetangganya. Berbagi tentulah merupakan suatu hal yang sangat indah disini.

3. Syukur. Budaya meugang ini juga dapat dikatakan sebagai suatu apresiasi dari sikap syukur. Syukur tersebut bisa jadi atas nikmat rezeki yang telah diberikan, ataupun syukur karena akan dapat merayakan puasa ataupun hari raya.

Budaya meugang, mungkin tidak ada di daerah lainnya di Indonesia. Sejatinya, budaya ini sangatlah bermanfaat dalam bersilaturrahmi dan berbagi. Ketika kesenjangan antara si kaya dan miskin kini kian terasa, budaya meugang ini bisa menjadi sebuah asa. Budaya yang bisa menjadi jembatan jarak antar manusia. Saling berbagi di saat meugang juga mengandung arti kita membutuhkan orang lain dalam hidup ini.

Posted by
ahmad_zikra

More

Panglima Uteun, Penjaga Hutan yang Kian Tergerus Zaman

Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai hutan yang luas. Hutan tersebut selain sebagai tempat hidup jutaan spesies flora dan fauna, juga membantu menjaga lapizan ozon yang terus saja menjadi semakin menipis. Terang saja, dengan lapisan ozon yang semakin menipis itu menjadikan bumi ini semakin panas. Es di kutub akan semakin mencair dan bisa jadi lho, sepertiga dari dunia ini bakal tenggelam.

Nah, dengan pertambahan penduduk yang semakin besar sementara luas daratan akan semakin mengecil, bisa-bisa kita bakalan hidup di atas air ntar. Dah semacam film waterworld gitu ya. Hoho...

Penebangan hutan yang begitu meraja dan meratulela (haha... istilahnya ngeri ya) membuat hutan yang ada menjadi semakin sempit, flora dan fauna yang ada pun kian terjepit. Sehingga bukanlah suatu keheranan jika pada saat sekarang ini muncul konflik antara manusia dengan binatang. Apakah itu kasus manusia vs harimau, manusia vs gajah, manusia vs beruang (saya juga pernah menulis ini disini) or bisa jadi manusia vs manusia itu sendiri kali ya.. -_-‘


Gencarnya penebangan dan perusakan hutan itu, kira-kira apa ngak ada yang ngelarang or mencegah gitu ya? Hmmm... legal logging dalam bentuk Hak Penguasaan Hutan (HPH) ataupun illegal logging yang ada sama-sama menjadikan hutan semakin terdegradasi. Dari satu segi hasil dari hutan itu sangat diperlukan, di segi lainnya keberadaan hutan juga tak kalah pentingnya.

Di Aceh sendiri, ada namanya tu Panglima Uteun (Panglima Hutan). Sosok Panglima Uteun sangat dikenal dalam tatanan kehidupan masyarakat Aceh dulu. Panglima Uteun yang berarti Panglima Hutan (semacam pawang hutan, namun jabatannya berada di atas pawang hutan) adalah orang yang bertugas menjaga keasrian dan keberlangsungan hutan. Berada di bawah Imuem Mukim (setingkat camat), Panglima Uteun ini memiliki beberapa tugas, diantaranya adalah sebagai pihak yang memiliki otorita menegakkan norma-norma adat yang berkaitan dengan memasuki dan pengelolaan hutan, mengawasi dan menerapkan larangan adat, berfungsi sebagai pemungut segala hasil hutan (untuk pada akhirnya disetorkan kepada raja sejumlah 10%), dan Panglima berfungsi menjadi hakim dalam menyelesaikan sesuatu perselisihan dalam pelanggaran hukum adat hutan.

Dengan tugas-tugas serta wewenang yang ada tersebut, praktis segala pengelolaan hutan harus diketahui dan seizin dari Panglima Uteun. Larangan dan pantangan dalam mengelola hutan disepakati dan dijalankan oleh semua pihak melalui koordinasi dari panglima. Jika aturan udah ada, masyarakat mau menjalankan, dan yang kontrolnya pun ada jadinya kan enak tu. Klopun ntar ada masalah-masalah, bisa diselesaikan dengan lebih mudah.

Keberadaan panglima Uteun
Sosok Panglima Uteun sendiri yang dulu dipercayakan untuk menjaga hutan di Aceh, kini mulai terasa kian pudar. Di umur yang semakin tua, hampir tidak ada orang yang mau atau bisa menggantikannya. Peran tersebut dianggap hanya sebagai peu hek droe (buat capek diri) dengan ketiadaan keuntungan yang diperoleh, apalagi perannya mulai tergantikan oleh semacam polisi hutan. Hal ini membuat tatanan sosial Pawang Uteun dan kaidah-kaidah yang diembannya terancam punah.

“Kami ini ada tapi seperti tak ada” ungkap seorang panglima uteun kepada kami saat acara Workshop Pemetaan Kapasitas dan Peran Pemangku Adat dalam Pengurangan Resiko Bencana di Banda Aceh tahun 2010 lalu. Saya yang kebetulan saat itu bertugas membantu fasilitator acara, tiba-tiba merasa ingin tahu lagi mengenai panglima uteun ini. Peran yang seharusnya dijalankan oleh mereka (seperti peran di masa dulu), kini mulai bersinggungan dengan pihak-pihak lainnya. Pihak itu tentu mempunyai kuasa kepentingan yang lebih besar yang tak bisa mereka cegah.

Dan untuk hal ini, suatu masalah yang menyangkut (kepentingan) pihak-pihak tertentu, saya sependapat kalau merupakan hal yang sangat runyam. Backing (orang yang berada di belakang) pihak yang mengeksploitasi hutan biasanya adalah petinggi-petinggi atau orang yang memiliki pengaruh kuat. Ujung-ujungnya, wewenang yang diberikan kepada panglima uteun ini seakan hanya sebagai ‘syarat ada’ saja, hutan terus saja dirambah dengan serakah.

Salah Satu Kondisi Hutan yang Ditebang untuk Pembukaan Lahan Ladang
Salah Satu Kondisi Hutan yang Ditebang untuk Pembukaan Lahan Ladang

“dan di hutan itu tidak hanya panglima uteun, ada juga pawang harimau, pawang gajah,....” ujarnya lagi menjelaskan (tapi saya udah tak ingat lagi lengkapnya, abisnya notulenku saat itu terbatas,hoho...). gambaran yang dapat kutangkap dari penjelasannya saat itu adalah pawang-pawang yang ada hanya ‘dimanfaatkan’ ketika munculnya kasus semisal harimau masuk pemukiman, beruang menyerang manusia, dan gajah masuk desa (yang ada dulunya kan ABRI masuk desa tuk membangun kan ya..). Jadi klo nampak harimau di pemukiman, panggil pawang harimau. Gajah masuk ke desa, panggil pawang gajah. Uang masuk desa? Jangan panggil siapa-siapa, cukup saya saja. Nah lho, hohoho....

Hutan sekarang
Aceh sendiri merupakan salah satu daerah yang masih mempunyai hutan cukup bagus di Indonesia. Hmm... (*berpikir, klo di Aceh begini dikatakan cukup bagus hutannya, bagaimana lagi di daerah lain ya). Moratorium logging atau jeda penebangan hutan yang dicanangkan Pemerintah Aceh sejak Juni 2007 hingga batas waktu yang tidak ditentukan, dinilai banyak pihak gagal. Klo menurut saya sih, belum maksimal kali ya. Hal itu tidak terlepas dari masih adanya unsur kepentingan yang berada di dalamnya, tentunya juga selain dari peran panglima uteun tadi yang semakin terkikis. 

Hutan selain paru-paru dunia, juga bermanfaat sebagai penyerap dan penyimpan air. Ketika musin hujan air bisa diserap oleh akar-akar pohon, dan ketika kemarau, air yang tersedia menjadi tak kurang. Hutan juga merupakan bagian wajib dari sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS). Bagi orang Teknik Sipil Hidroteknik atau Pengairan seperti kami ini (^^V) mungkin sudah sedikit paham dengan istilah ini. Bagi yang belum, saya kasih tahu sekilas deh, hehe...

DAS merupakan daerah tangkapan air hujan yang akan mengalir ke suatu sungai. Karena pengaruh topografi yang ada, hujan yang jatuh di daerah DAS sebuah sungai secara otomatis akan turun ke sungai tersebut. Jika hutan ada, air hujan tersebut bisa tertahan oleh pohon-pohon dan tidak langsung mengalir ke sungai. Nah, klo tidak ada penahannya (hutan tadi), bisa dibayangkan kan klo hujan yang turun tu lebat banget? Yupz, banjir. Debit atau volume air yang mengalir ke sungai jadi melebihi tampungan sungai. Sekarang hampir semua daerah di Indonesia mengalami banjir, sekilas saja sudah bisa kita tebak, pasti deh tu ada apa-apanya dengan hutannya.

* * *

Sekedar info bagi kita semua, pernah dengar istilah banjir bandang kan? Bahasa inggrisnya tu flashflood gitu. Banjir yang menyapu bagian hilir dari sungai itu biasanya membawa material-material besar seperti batu dan gelondongan (hasil dari penebangan pohon). Akibatnya tak jarang menimbulkan korban baik harta maupun nyawa. Bagi yang belum kebayang juga, ingat lagi deh banjir bandang Wasior (Papua) atau banjir bandang Tangse (Aceh). Banjir bandang itu membawa air dalam volume yang besar. Volume/debit yang besar itu tentunya tidak bisa terjadi sebelum terlebih dahulu ‘tertampung’. Dalam artian, aliran air di sungai yang ada menjadi terhambat oleh sesuatu, biasanya sih kayu gelondongan tadi. Nah, air yang terhambat tadi akan menjadi semacam tampungan semacam wadah air. Ketika yang menghambat tadi sudah tak cukup kuat menahan tampungan air, maka pecahlah ia membawa volume air yang besar.

Survey Kondisi setelah Banjir Bandang Tangse oleh Tim Lab Hidroteknik Univ. Syiah Kuala
Survey Kondisi setelah Banjir Bandang Tangse oleh Tim Lab Hidroteknik Univ. Syiah Kuala

Dan anda tahu? Jika fenomena ini terjadi, seharusnya merupakan hal yang bisa diantisipasi! Ingat lho, hal ini SEHARUSNYA dapat diantisipasi..!! salah satu cara menandakannya adalah, jika air tadi mulai tertampung karna adanya hambatan, dapat dilihat air yang mengalir ke hilir akan ada bening dan keruhnya. Jadi bukan bening saja atau keruh semua. Atau bisa dilihat juga jika kondisi hujan, air yg mengalir di sungai tak banyak seperti biasanya. Artinya adalah, ada sesuatu yang menahan aliran air di bagian hulu sungai. Dan kita harus waspada bila ada tanda-tanda tersebut. Jika ditanya sekarang? Apakah masyarakat yang tinggal di lingkungan hilir sungai mengetahui akan hal itu? Seandainya mereka tahu, tentu dampak bencana yang akan terjadi dapat diminimalisasi. Salah satu orang yang juga mengetahui hal tersebut, adalah panglima uteun..!!!

* * *

Secara pribadi, saya angkat salut kepada para panglima uteun yang masih bertahan. Yang masih mau menjalankan ‘tugas-tugasnya’ dengan segala keterbatasan dan peran yang semakin terkikis. Panglima uteun yang sampai sekarang masih mau menjaga hutan yang ada, hutan sebagai paru-paru dunia, hutan tempat hidup flora dan fauna, juga manusia.
*standing applause...

Budaya jaga hutan
Kenapa saya mengatakan “budaya jaga hutan”? apakah menjaga hutan itu adalah sebuah budaya? Nyatanya, menjaga hutan adalah suatu budaya yang seharusnya wajib kepada kita. Hutan, menjadi bagian yang begitu penting dalam kelangsungan hidup manusia di dunia ini. Nah, manusia itu sendiri harus secara aktif tergerak untuk menjaga hutan.

Budaya menjaga hutan telah ada sejak zaman dahulu. Malah di Banda Aceh sendiri (dulu bernama Kutaraja) dilarang menebang pohon-pohon besar yanga da di kota, apalagi di hutan ya. Salah satu amanah dari kerajaan di masa dulu adalah hutan-hutan yang ada janganlah ditebang, sekalipun untuk membangun permukiman. Ada syarat-syarat dan ketentuan tersendiri jika harus menebang pohon. Nah, secara tidak langsung, budaya itu sudah ditanamkan sejak lama.

Munculnya organisasi-organisasi, kelompok masyarakat, atau apalah namanya yang ingin menjaga keberlangsungan hutan tentunya adalah sebuah hal yang baik. Namun perlu dilihat juga, banyaknya campur tangan yang ada malah menjadikan ‘budaya menjaga hutan’ tadi mankin tidak jelas. Masing-masing pihak meng-klaim dialah yang berhak mengelola hutan itu. Hoho... kenapa tidak kembalikan saja fungsi itu seutuhnya kepada panglima Uteun. Dan organisasi-organisasi atau kelompok masyarakat yang muncul belakangan itu mensupport tugas panglima. Karna di era yang semakin maju ini, tidak mungkin juga panglima uteun bekerja sendiri. Atau jika ada organisasi/badan lain yang diberikan wewenang, nilai-nilai yang telah ada dulunya itu jangan juga dibuang begitu saja.

Apa apresiasi yang bisa kita berikan? Saya rasa yang terbesar yang harusnya kita berikan adalah tetap kita jaga budaya menjaga hutan ini. 

“oh saya tinggal di Kota ding”. Kita juga bisa ikut berpartisipasi mulai dari hal-hal yang kecil semisal menggalakkan penanaman pohon.
“saya ngak punya tanah or lahan untuk ditanami, acem tu?” ya paling tidak kita menjaga saja pohon-pohon yang sudah ditanam, jangan malah dirusak. Ya ngak..? :)

Hutan Kita, Mari Jaga Bersama
Hutan Kita, Mari Jaga Bersama

bagi Beswan Djarum yang ada sendiri,  bisa terlibat atau dilibatkan dalam kegiatan Djarum Bakti Lingkungan yang ada. Kegiatannya bisa jadi dalam bentuk penghijauan atau semacamnya. Itu kan juga merupakan salah satu jalan menjaga dan memelihara semangat kita untuk budaya menjaga hutan kan ya. Jika pun peran panglima uteun semakin tergerus, ataupun suatu saat nanti habis dimakan zaman, semangat kita untuk menjaga lingkungan terutama hutan ini janganlah pudar. Tetap jaga ia agar selalu mekar...!!
:)

Posted by
ahmad_zikra

More

Copyright © 2012 Zikra NotesTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.