Pendapat-pendapat seperti itu wajar saja muncul melihat sekilas kondisi sehari-hari masyarakat Kota Banda Aceh. Orang-orang yang hadir ke warkop seakan tiada putus-putusnya. Saya pribadi (dan tentunya beberapa dari Anda juga mungkin) sudah beberapa kali menghadapi orang dari luar Aceh yang bertanya mengenai hal tersebut. So, daripada terus-terusan menjawab hal yang sama, ada baiknya saya tulis saja sekilas mengenai masalah ‘kopi’ ini. Sehingga bisa dibaca oleh khalayak ramai dan bisa dikoreksi bila kemudian terdapat kekeliruan dari tulisan saya. Hehe... okey? Lanjuut....
Sebagai pembuka, saya ingin menceritakan sebuah kisah kepada Anda. Dengar baik-baik ya, J. Begini ceritanya,... (wah, kok udah seram mode on gini ya). Saya mendapatkan cerita ini dari seorang pimpinan saya. Kebetulan beliau juga aktif dalam organisasi Taekwondo Aceh. Di suatu kesempatan pertemuan pelatih Taekwondo nasional, salah seorang pelatih dari luar Aceh menanyakan pertanyaan ‘umum’ tadi. Menghadapi pertanyaan tersebut, beliau hanya menjawab seadanya saja dan di suatu pagi mengajak sang pelatih untuk ngopi bareng di salah satu warkop di kawasan Beurawe, Banda Aceh, sambil melihat keadaan sesungguhnya ‘warkop’. Disana sang pelatih tak banyak berkomentar mengenai pertanyaannya tadi. Malah asik terlibat mengenai pembicaraan lainnya.
Dan anda tahu? Ketika siangnya, sang pelatih kembali ingin diajak ke warung kopi tadi. Dan tak Cuma siang, sorenya pun, singgah lagi di warkop. Haha.. dan dalam sehari saja, sang pelatih sudah 3 kali nongkrong di warkop. Udah ketagihan ngopi kayaknya nih. Hehe...
Sebenarnya, apa sih istimewanya kopi tersebut? Kalau saya menjawab, tidak ada yang terlalu istimewa di kopinya. Muncul istimewanya adalah ketika bergabungnya kopi, warkop, dan penikmat kopi itu sendiri tentunya.
Untuk lebih memastikan keistimewaan warkop itu sendiri, saya meluncur ke beberapa warkop yang ada di Banda Aceh untuk mendengarkan beberapa pendapat penikmat kopi tentang ‘tingkat kemalasan’ mereka. Ya... walaupun secara pribadi, hampir saban hari juga saya nongkrong di warkop, hehe.... Sangat tidak sulit menemukan warkop di Banda Aceh (waduh, istilahnya sampe segitunya ya,,,), karena hampir di semua pojok terdapat warung kopi. Ngak itu di tingkat kota, kecamatan, di desa, bahkan tingkat lorong pun ada, :). Dan yang terbanyak,berada di Jalan Dr. Moh. Hasan, nama jalan yang berasal dari salah seorang pahlawan nasional dari Aceh. Entah suatu kebetulan atau bukan, di ujung kedua jalan ini terdapat warkop. Warkop Dhapukupi di simpang surabaya dan warkop Solong 3 di simpang menuju Lampeuneurut (Ujung jalan yang satunya).
Kali ini, saya nongkrong di warkop Dhapukupi. Warkop berlantai dua ini cukup strategis berada di persimpangan jalan dan tak pernah sepi dari pengunjung, serta didukung dengan fasilitas wifi yang memungkinkan pengunjung untuk dapat mengases internet. Jaraknya pun tak begitu jauh dari pusat kota dan dapat diakses dengan kendaraan pribadi maupun umum biasa(labi-labi jurusan Kota-lambaro). Seperti biasanya keadaan warkop, suara gemuruh bak suara tawon mulai terdengar saat mulai memasukinya. Para pengunjung terdiri dari berbagai kalangan dan tujuan masing-masing. Dari mahasiswa yang membahas masalah keadaan para pemimpin sampai masalah trik jitu berbisnis sambilan kuliah (sampai-sampai kuliahnya telat kelar, ^^V), perdebatan antar suporter sepakbola saat menonton bola, orang-orang yang sedih nangis bombay gara-gara masalah yang ngak jelas, orang yang senang karena baru memenangkan proyek, pembicaraan masalah politik dan kampanye menjelang pilkada, dan lainnya yang cukup kompleks dan beragam. “kami sering mendiskusikan masalah sehari-hari yang menyangkut keadaan Aceh saat ini dan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kampus (pendidikan) dan politik”, ujar Boy (24), seorang mahasiswa tingkat akhir ketika ditanya hal yang sering didiskusikan dalam kesehariannya di warung kopi.
Ketika saya bertanya mengenai pandangan orang luar yang melihat orang yang nongkrong sebagai suatu ‘kemalasan’, fajar (23) berpendapat, “tergantung bagaimana orang menilainya. Saat ini warung kopi memang mulai mengalami sedikit pergeseran, namun fungsinya sebagai tempat bertukar informasi masih tetap berjalan”.
Di hari lainnya saya berkunjung ke warkop yang sudah cukup lama berdirinya. Orang-orang sering menyebutnya dengan warkop Beurawe. Berbeda dengan Dhapukupi yang menyediakan akses wifi, disini samasekali tak ada. Saat hendak memasuki warkop ini, di sebuah spanduk kecil di depannya tertulis, FORSILAKUBRA (Forum Silaturrahmi Kupi Beurawe). Dari situ saja saya bisa mengetahui bahwa warkop ini telah menjadi ajang berkumpul para pecinta kopi kawasan beurawe. Dan benar saja, di dalam warkop ini pun terdapat sebuah whiteboard yang berisi pengumuman-pengumuman dan update informasi. Kejuaraan lah, rapat, atau kabar-kabar yang perlu diberitakan disampaikan melalui mini whiteboard itu.
**
dan akhirnya, di dalam warkop, bisa terjadi apa saja. Terkadang hal-hal yang tidak pernah kita duga pun bisa terjadi. Dalam satu meja, orang-orang yang dulunya berselisih bisa menjadi karib. Sebagai contoh, pemandangan yang dulu sungguh tak lazim kini menjadi hal yang biasa. Mantan kombatan GAM dan TNI bisa duduk dalam satu meja, mendiskusikan berbagai macam hal. Dengan tawa-tawa yang khas terdengar. Atau para kontraktor/konsultan yang bersaing memperebutkan suatu proyek, bisa tertawa lepas bercanda ketika berada di warkop.
Betapa warkop membahas semuanya. Alur informasi yang tiada putus-putusnya, mendinginkan suasana, seperti hujan di saat musim kemarau. Hujan yang turun membasahi bumi, mendinginkan suasana hati. Hujan dalam segelas kopi.
0 komentar:
Posting Komentar